Apa yang bisa saya lakukan dengan “Status” saya yang sudah bekerja

Tau ga si betapa beratnya hati kalau melihat orang yang tak mampu dan kekurangan? rasanya pengen menolong, iya ga sih??

Satu minggu yang lalu pernah saya jumpai bapak rongsokan yang menggendong rongsoknya tidak memakai alas kaki apapun, bapak itu jalannya pelan-pelan karena pincang. Subhanallah banget, saya berjalan dari dago asri menuju cisitu tempat saya bekerja, kebetulan dari jalan itu saya dibelakang beliau dari awal sampai simpang gang kecil saya mengikutinya dibelakang, alangkah hati ini merasa iba dan ingin sekali menolongnya, andaikan saja di depan ada toko yang jual sandal jepit saya hendak membeli untuk bapak tersebut. tapi sampai simpang pun tidak ada toko satupun karena memang daerah perumahan dan kos-kosan semua.

Sepanjang jalan saya dibelakang beliau saya banyak sekali berfikir, bagaimana sekarang keadaan orang tua saya, ibu dan bapak yang jauh yang sekarang sudah tua,sudah renta dan sering sakit-sakitan masih bekerja, saya ingin mereka diam dirumah dan istirahat.

Andaikan saya adalah orang yang punya rejeki lebih untuk orang-orang yang membutuhkan pasti saya dengan senang hati membagi bersama orang yang kekurangan itu. Merenung dan berfikir apa yang bisa saya lakukan buat menolong orang didepan saya yang sudah tua itu, pernah terbayang buat ngasih aja uang langsung siapa tau bisa membantu bapak itu, tapi berpikir lagi, apa bapak itu ntar tidak tersinggung ya?? Sementara saya inget di kantongku cuma ada 120.000 dan itu harus cukup sampai tanggal 27 karena itu tanggal gajian saya. Sampai akhirnya berpisah, bapak tua itu belok ke gang kecil dan saya lurus, setelah itu saya buru-buru jalan cepat untuk menemukan toko didepan, ternyata tidak ketemu satu toko pun, ya sudah dengan hati kecewa cuma bisa menyesali betapa bodohnya saya tidak bisa membantu bapak itu, sejak saat itu saya selalu kepikiran bapak pemulung sampah kapan dia akan lewat jalan ini lagi.

Sebenarnya saya lebih suka jalan kaki dari dago asri ke cisitu indah dari pada dari bawah cisitu lama ke cisitu indah, karena selain tidak ngeluarin uang 1500 buat angkot juga sekalian liat rumah yang bagus-bagus disitu biar saya jadi semangat untuk membuat rumah untuk orang tua saya.

Pernah saya temui anak baru lulus SMP dia ingin lanjut ke SMA, sehabis solat dimasjid depan rumah, dia menanyakan cita-cita saya apa, dia menanyakan umur saya, menanyakan udah lulus atau belum. lalu saya tanya balik, kamu udah kelas berapa? dia cuma diam dan senyum, lalu pulang. Hari berikutnya dia tanya-tanya lagi ini dan itu banyak banget, dari yang saya tangkap dengan pembicaraan kami berdua, dia itu sebenernya pengen nerusin sekolahnya tapi keadaanya tidak memungkinkan, dimatanya dia ingin cita-citanya terwujud. Mendengar semua kata-katanya saya jadi tersentuh buat ngebantunya, tapi apa daya tangan ini tak sampai buat membantunya, disamping saya harus memenuhi kebutuhan keluarga dirumah untuk hidup saya sendiri saja masih mepet. Saya berusaha menghibur hatinya untuk berdoa agar diberi jalan dan saya beri tahu ke dia kalau misalkan mau main ketempat saya dan belajar silahkan, saya ada dirumah setiap sabtu dan minggu, saya tidak bisa menjanjikan apapun tapi saya ingin membantu dia nantinya.

Mungkin itu segelintir kejadian yang saya temui bersama orang yang kurang mampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s